Al-Manshuriyah, Pusat Peradaban Penyangga 3 Kecamatan di Lombok Selatan Belum Menikmati Layanan Internet dan Penyiaran Maksimal

Al-Manshuriyah, Pusat Peradaban Penyangga 3 Kecamatan di Lombok Selatan Belum Menikmati Layanan Internet dan Penyiaran Maksimal

Madanitvlombok.com – Lombok Tengah – Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan Sangkong, Desa Bonder baru saja memperingati Harlah Ke-57 Tahun sekaligus Haul Ke-II sang pengasuh, Almahghfurlah Drs. TGH. Ahmad Taqiuddin Manshur.

Sebagai pusat pendidikan, sosial, budaya yang selama ini menjadi kiblat di 3 Kecamatan yaitu Praya Barat, Praya Barat Daya, dan Pujut kawasan di Lombok Tengah Bagian Selatan ini ternyata belum menikmati digitalisasi penyiaran.

Apa itu digitalisasi penyiaran?

Didalam UU Cipta kerja yang banyak ditolak oleh rakyat Indonesia, terdapat satu terobosan penting didunia penyiaran. Agenda yang telah lama tertunda dengan serta merta akan mulai diberlakukan paling telat tahun 2022 mendatang. Agenda itu adalah ASO atau Analog Switch Off. Dengan ASO, maka siaran analog tidak akan lagi ditemui di Indonesia karena diganti dengan penyiaran digital.

Dalam sebuah sosialisasi dan publikasi yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) beberapa waktu lalu di Lombok Tengah, Gubernur Nusa Tenggara Barat DR. H. Zulkiflimansyah menyatakan jika masih banyak warga NTB yang belum memahami apa itu siaran digital dan analog. Menurut Gubernur yang akrab dipanggil Bang Zul ini, Kementerian KOMINFO harus lebih banyak menggelar sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat tentang siaran digital lengkap dengan manfaatnya.

“Ada sebuah kisah tentang ajakan untuk berubah lebih baik, tapi karena yang diajak berubah tidak faham dengan arah perubahan, maka ajakan itu menjadi sia-sia. Begitupun dengan agenda negara dalam dunia penyiaran ini, kalau masyarakat tidak faham apa itu digitalisasi penyiaran maka bisa diperkirakan apa yang akan terjadi dengan ajakan itu” ungkapnya dalam sambutan yang  turut dihadiri oleh Ketua KPI Pusat, Ketua Komisi I DPR RI serta puluhan peserta sosialisasi dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam banyak kesempatan, Pemerintah kerap kali menyebut jikalau migrasi/perpindahan sistem siaran dari analog ke digital itu adalah bentuk keberpihakan negara terhadap rakyat. Dimana setelah terjadinya perpindahan siaran maka rakyat akan sangat diuntungkan karena bisa menikmati akses internet lebih cepat dengan mengadopsi jaringan 5G. Frekuensi yang digunakan oleh TV analog saat ini akan digunakan untuk jaringan mobile broadband.

Apakah NTB sudah siap dengan siaran digital?

Menindaklanjuti hasil sosialisasi yang dilakukan Kementerian KOMINFO, tim suarasasak.com langsung mengunjungi salah satu pondok pesantren Al-Manshuriyah sebagai lembaga pendidikan terbesar yang kerap dikunjungi para ulama, tokoh nasional hingga Wakil Presiden RI ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah daerah selatan itu sudah mengetahui dan siap menerima siaran digital.

“Kami belum faham apa itu penyiaran digital. Yang kami tahu, setiap kami menonton televisi selalu saja merasa tidak nyaman. Terkadang gambar di layar tidak terlihat oleh banyaknya semut itu. Belum lagi sinyal internet, sering E. Sehingga kami kesulitan menerapkan pembelajaran daring untuk santri”, ungkap Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I, Ketua Yayasan Al-Manshuriyah.

Didalam area pondok pesantren yang terletak di dusun Sangkong, Desa Bonder Lombok Tengah itu, warga pondok pesantren memang masih menonton tv yang dipenuhi dengan semut. Bahkan ketika TV digital dicobakan sebuah perangkat STB, malah justru tidak mendapatkan signal.

“Iya. Coba pakai STB ini tapi malah tidak ada signal. Artinya, wilayah kami ini belum mendapatkan akses siaran digital itu” tambahnya.

Mulianah yang juga merupakan Rektor Universitas Nahdlatul (UNU) NTB itu mejelaskan bahwa, wilayah di Lombok Tengah bagian selatan hingga saat ini belum bisa menerima siaran digital yang bahkan sedang diujicoba oleh Televisi milik negara, yaitu TVRI. Meski sudah menggunakan alat penangkap signal digital yang disebut STB.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar pemerintah segera memprioritaskan tempatnya yang tergolong wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) untuk dibangunkan infrastruktur telekomunikasi yang memadai melalui program Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang saat ini tengah digencarkan. Karena di didalam pondok Al-Manshuriyah juga berdiri lembaga-lembaga penggerak ekonomi masyarakat seperti Balai Latihan Kerja (BLK) dan Bank Wakaf Mikro (BWM) serta menaungi 20 lebih madrtasah cabang yang tersebar di 3 kecamatan tersebut. Selain karena perekonomian masyarakat, di wilayah selatan ini terdapat kawasan khusus KEK Mandalika dengan agenda MotorGP 2021 yang merupakan agenda superprioritas nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *